Air Terjun Granjangan, Surga Tersembunyi di Kaki Arjuno-Welirang

Air Terjun Granjangan, Surga Tersembunyi di Kaki Arjuno-Welirang
Air terjun Granjangan di Kelurahan Ledug, Prigen, Kabupaten Pasuruan. (Foto: Miftahul Ulum)

KABUPATEN Pasuruan dikenal kaya akan pesona alamnya. Sebagian di antaranya cukup populer di kalangan warga. Tapi, ada juga yang belum familiar di telinga. Salah satunya, Air Terjun Granjangan.

Wana wisata yang berlokasi di Dusun Ledok, Kelurahan Ledug, Kecamatan Prigen, ini bisa dibilang surga tersembunyi di Kabupaten Pasuruan. Menjanjikan panorama yang masih perawan, air terjun ini layak jadi objek wisata alternatif kala Anda berkunjung ke Puncak Prigen.

Minggu (23/5/2021) lalu, WartaBromo berkesempatan mengunjungi air terjun dengan tinggi sekitar 40 meter ini. Di bawah hempasan angin khas pegunungan, suasana begitu tenang.

Tak sulit untuk menemukan air terjun yang berada di kaki Gunung Arjuno-Welirang ini. Jika anda sudah sampai di Simpang Empat Taman Dayu, maka anda harus mengambil jalan menuju Prigen.

Sesampainya di Simpang 3 Prigen, anda ambil kiri sejauh kurang lebih 4 km, hingga sampai kawasan Ledug. Usai melewati jembatan, cari Jalan Mawar, dan masuk gang tersebut sejauh 500 meter, hingga ketemu dengan satu-satunya bangunan gubuk kayu bertingkat.

Di situ lah pintu masuknya, rumah milik Kasman, pengelola air terjun. Pria kelahiran 1964 ini hidup seorang diri di gubuknya yang sederhana.
“Sebelum saya antar, masuk sini dulu, masih hujan,” kata pria yang akrab disebut Bung Remon, Minggu (23/5/2021) siang.

Memang saat itu cuaca sedang tidak mendukung, berkunjung saat mendung sudah menggelayut. Dan saat tiba, langit sudah gerimis dan berangsur-angsur deras.
Lama mengobrol dengan Bung Remon di gubuknya, hujan tak kunjung reda. Hingga akhirnya, Remon mengantar untuk melihat air terjun itu.

Dari pintu masuk, pengunjung harus menuruni jalan yang cukup terjal dan curam sejauh 300 meter untuk sampai di air terjun. Dari jalan yang sudah disemen, sampai jalan tanah dan batu. Tebing tinggi dengan bebatuan besar di sisi kiri juga menambah kesan natural. Namun pengunjung diharap berhati-hati saat menuju air terjun.

“Seadanya saya buat, tiap hari sedikit-sedikit saya benahi, saya pasang tali tambang dan bambu sebagai pegangan. Jalannya juga saya benahi sedikit-sedikit,” tutur Remon selama di perjalanan.

Kurang lebih 5 menit perjalanan, kita sudah sampai di Air Terjun Granjangan. Suguhan air terjun setinggi 40 meter ini membayar kelelahan pengunjung usai menapaki jalan berbatu.

Sebelum sampai di air terjun, pengunjung juga disuguhi bermacam bunga dan tanaman hias. Mulai dari tanaman Sugik, Andong, Samiya Air, hingga Bunga Sepatu Aribang.
“Ini saya yang menanam semua, sama istri dulu, sedikit-sedikit sampai begini. Bagus tidak?,” tanyanya kepada saya.

Sayang, karena hujan deras, saya tidak bisa turun merasakan kesegaran air terjun ini. Airnya juga sedikit coklat saat turun hujan. Saya hanya diperbolehkan Remon untuk diam di atas dan merasakan tempias air.
“Kalau tidak hujan, bisa di sana, duduk di atas batu dan mandi di bawah air terjun. Kalau sekarang jangan, airnya deras, khawatir banjir,” cegahnya.

Kendati hujan dan air berubah keruh, keindahan air terjun Granjangan masih dapat dinikmati dari kejauhan. Apalagi, di sekitar air terjun tumbuh beragam tanaman hias beragam warna.

Hanya saja, yang perlu diwaspadai saat hujan, jalanan setapak menuju ke dua air terjun menjadi licin. Setelah puas menikmati air terjun, Remon mengajak kembali ke gubuknya lantaran hujan semakin deras.

Di gubuknya yang mungil, Remon mengisahkan perjuangannya membuka air terjun yang dianggap mistis oleh warga sekitar itu. Sejak 2013 ia bersama istrinya “membuka” air terjun ini dan memperkenalkannya kepada khalayak umum.

Dibantu jejaringnya sebagai MC organisasi kesenian (orkes), air terjun ini mulai dikenal publik secara luas tahun 2017. Pengunjung dari dalam dan luar kota berdatangan.
“Ada dari Banyuwangi, Surabaya, Blitar, sampai Kalimantan,” tuturnya.

Pengunjung yang ingin menikmati kesejukan air terjun pun tak dipatok tiket masuk. “Gak ada uang masuk, se ikhlasnya saja,” sambungnya.

Padahal untuk sampai ke tujuan, Remon mengantarkan pengunjungnya. Sementara istrinya menjaga motor atau kendaraan pengunjung di sebelah rumahnya.
“Tapi karena terhimpit ekonomi, istri saya pergi ke Malaysia untuk merantau tahun 2018 sampai sekarang belum pulang,” keluhnya.

Kepergian istrinya tidak hanya berdampak padanya secara pribadi. Tapi juga berdampak besar pada pengelolaan air terjun ini.
Kunjungan wisatawan berangsur menjadi sepi. Sampai sekitar tiga tahun ini, air terjun ini sepi pengunjung dan sepi perhatian.

“Padahal saya inginnya air terjun ini bisa mengangkat ekonomi warga sekitar. Apalagi di sekitar sini kan jual bunga hias, nah kalau ramai (air terjun) kan bisa ikut ramai jualannya. Tidak perlu dikirim ke Surabaya atau kota lain, cukup jualan di sini,” harapnya.

Pun perhatian dari pemerintah setempat juga minim. Memang sempat beberapa tahun silam sejumlah anggota dewan dan Bupati Pasuruan Irsyad Yusuf membantu material untuk pembangunan jalan menuju air terjun.
“Mungkin tahun 2018, dari pak bupati nyumbang semen, dan anggota DPRD sini bantu semen dan pasir buat jalan itu. Saudara saya juga bantu untuk buat jalan ini,” ungkapnya.

Remon tidak berharap banyak dari air terjun ini. Dia ingin agar air terjun ini ramai kembali, dengan bantuan pemerintah atau siapapun.
“Ada yang ke sini saja saya sudah senang, ada teman ngobrol, jadi keslimur, nambah rezeki. Soal uang saya sudah ada nyambi jual bunga sama ngeramut sapi. Yang penting ramai, orang-orang sini ikut kecipratan,” pungkasnya.

Bagi pengunjung yang suka dengan pemandangan alam yang masih asri sekaligus ingin menikmati tantangan, bisa mengunjungi Air Terjun Granjangan. Buka setiap hari, namun perhatikan waktu berkunjung dan cuaca. Sehingga bisa menikmati keindahannya secara maksimal. (WB)

*Laporan : Miftahul Ulum

Exit mobile version