Enam Pelajar Jadi Korban Prostitusi Anak Kos, Promosi lewat Grup WA

Enam Pelajar Jadi Korban Prostitusi Anak Kos, Promosi lewat Grup WA
Portitusi Blitar

Omahnews – BY yang juga pemilik kos-kosan hanya bisa menundukkan wajah ketika dihadirkan dalam gelar kasus di Mapolres Blitar Kota (7/4).

Wanita 40 tahun ini ditetapkan tersangka dugaan kasus prostitusi online yang melibatkan sejumlah anak yang masih duduk di bangku sekolah menengah atas (SMA).

Kegiatan terlarang ini terendus oleh kepolisian pada akhir Maret lalu. Warga di sekitar rumah BY yang juga dijadikan rumah kos melaporkan adanya aktivitas mencurigakan kepada polisi. Dari keterangan BY kepada Koran ini kemarin (7/4), dia mengaku menjalankan bisnis haram itu sejak 2020 lalu.
“Sudah sekitar setahun ini berjalan,” ujarnya.

Kapolres Blitar Kota, AKBP Yudhi Hery Setiawan mengatakan, penggerebekan rumah kos milik tersangka di Jalan Jawa, dilakukan pada akhir Maret lalu.

Hal ini dilakukan setelah polisi menerima laporan dari masyarakat dan ditindaklanjuti dengan kegiatan penyidikan di tempat kos dan salon milik tersangka.
“Kami bertindak atas dasar laporan dari masyarakat yang merasa resah dengan aktivitas di rumah kos yang sangat mengganggu,” tegasnya.

Dalam penggerebekan, didapati 2 pasang laki-laki dan perempuan di dalam kamar kos, 4 perempuan penghuni kos, dan 1 wanita yang diduga muncikari berinisial BY di ruang tamu. Lalu tersangka BY serta dua orang laki-laki dan enam perempuan itu dibawa ke polres untuk dilakukan penyelidikan lebih lanjut. “Semuanya langsung kami angkut ke Polres Blitar untuk diperiksa,” tegasnya.

Saat dilakukan interogasi, ungkap Yudhi, tersangka BY mengaku jika dirinya sebagai penyedia tempat dan menyuruh anak kos untuk bekerja sebagai PSK dengan tarif yang sebelumnya disebutkan. Belum bisa menyampaikan lebih lanjut terkait dugaan keterlibatan para penghuni kost dalam bisnis esek-esek ini, mengingat usia para korban yang rata-rata masih di bawah umur. Kendati demikian, dia menegaskan akan mengembangkan kasus ini untuk menemukan bukti lain atau nama-nama lain yang mungkin terlibat.
“Kami temukan sebanyak enam korban. Tapi tidak menutup kemungkinan kami akan menemukan korban lain atau TKP lain. Nanti akan kami kembangkan,” bebernya.

Adapun barang bukti yang berhasil diamankan di antaranya, satu unit HP merek Oppo warna putih dan uang tunai senilai Rp 600 ribu. Untuk tersangka diancam pasal 8 UU Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan atas UU Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, dan pasal 296 KUHP atau pasal 506 KUHP tentang Menarik Keuntungan dari Perbuatan Cabul.
“Untuk hukumannya, BY diancam penjara paling lama 10 tahun dan denda paling banyak Rp 200 juta,” tandasnya. (rt/tya/alwk/JPR)