Kartini, Emansipasi dan Pendidikan Antikekerasan

Kartini, Emansipasi dan Pendidikan Antikekerasan
Kartini, Emansipasi dan Pendidikan Antikekerasan

SETIAP 21 April diperingati sebagai hari lahir RA Kartini, seorang tokoh pahlawan emansipasi wanita Indonesia asal Jepara.

Perempuan yang lahir pada 21 April 1879 itu dikenang lantaran aksi dan pemikirannya yang senantiasa aktual untuk diteladani oleh perempuan Indonesia. Perjuangan RA Kartini dalam mengangkat harkat pendidikan Indonesia patut untuk didiseminasikan dalam konteks pendidikan nasional.

Dalam politik etis yang merupakan politik balas budi pemerintah Hindia Belanda, ada tiga hal yang disoroti oleh pemerintah Belanda, yakni irigasi, transmigrasi, dan edukasi. Kartini adalah tokoh yang begitu berperan dalam persoalan edukasi. Kartini adalah sosok perempuan cerdas yang sering membaca karya Eduard Dowes Dekker yang berjudul Max Havelar. Karya ini berisi tentang kritik-kritik terhadap kolonialisme yang memeras habis tenaga dan menyita kemerdekaan rakyat Hindia Belanda.

Ayahnya juga sering mengajak anak-anaknya, termasuk Kartini untuk melihat berbagai keadaan yang menimpa rakyat. Seperti ungkapan adik Kartini bernama Kardinah berikut;
“Setelah sudah agak besar, kami (anak-anak RM Sosroningrat) sering disuruh oleh rama (bapak) untuk ikut meninjau tempat-tempat penderitaan rakyat. Maksud rama supaya kami melihat sendiri dari dekat bencana-bencana yang menimpa rakyat itu dan mendapat kesan bagaimana susahnya hidup mereka yang melarat dan hina itu,” tulis Kardinah dalam suratnya pada 25 Maret 1964 kepada Siti Soemandari Soeroto, penulis Kartini Sebuah Biografi.

Untuk ukuran saat itu, sekolah bagi seorang perempuan adalah hal yang tabu. Perempuan dianggap sebagai konco wingking yang apabila telah akil baligh kemudian dikawinkan secara paksa oleh kedua orang tuannya. Di sinilah bisa dilihat bagaimana kontribusi Kartini. Dia membangun sebuah sekolah di Jepara tanpa dibantu oleh dana pemerintah kolonial Belanda. Konsep sekolah yang dibangunnya adalah penuh dengan perasaan kemanusiaan dan jauh dari sikap otoriter Belanda.

Bahkan wanita ketika itu layaknya barang dagangan yang dijual dengan harga murah. Belenggu feodalisme dan patriarkisme yang mencengkeram mayoritas masyarakat Jawa pada waktu itu memang kuat. Layaknya zaman jahiliah sebelum era kerasulan Muhammad, di Arab terdapat tradisi mengubur bayi perempuan hidup-hidup karena perempuan dianggap makhluk yang lemah dan hina. Tidak kuasa memanggul senjata untuk membela kehormatan dan kemuliaan suku atau klan.

Bahkan semenjak di Rembang, cita-cita Kartini untuk mendirikan sekolah demi sekolah terpenuhi. Suaminya yang juga berpikiran maju itu menyetujui bahwa ia mendirikan sekolah di sebelah timur pintu gerbang kompleks kantor Bupati Rembang. Sekolah Kartini kemudian berkembang pesat, banyak siswa-siswa yang belajar di sekolahnya dengan tanpa subsidi dari pemerintah.

Jika kita membaca surat-surat Kartini yang ditujukan kepada Ny Abandenon kebanyakan adalah berisi kritik dan solusi dari seorang perempuan untuk kemajuan bangsanya. Pada tahun itu, ia sudah mampu menelurkan gagasan-gagasan yang maju, bahkan terlalu maju bagi zamannya di Hindia Belanda saat itu untuk bandingan kaum pribumi. Sehingga sering disebut bahwa Kartini dengan gagasan-gagasannya adalah suatu ramalan tentang masa depan.