Kartini, Emansipasi dan Pendidikan Antikekerasan

Kartini, Emansipasi dan Pendidikan Antikekerasan
Kartini, Emansipasi dan Pendidikan Antikekerasan

Sebuah surat Kartini yang penting untuk dijadikan sebagai alat melihat bagaimana tekad dan komitmennya dalam pendidikan adalah suratnya ke Stella. Bagi saya, hanya ada dua macam keningratan: keningratan pikiran dan keningratan budi. Tidak ada yang lebih gila dan bodoh menurut persepsi saya daripada melihat orang yang membanggakan asal keturunannya…”(Surat Kartini kepada Stella, 18 Agustus 1899).

Bagi saya, surat Kartini sebagaimana di atas merupakan ”dentuman besar” pemikiran persamaan dan penghargaan terhadap seseorang karena intelektualitas dan karakter yang baik. Di negara kita tercinta ini, banyak slogan sekolah yang ingin merengkuh dua hal itu, intelek dan berkarakter baik. Kartini sangat concern terhadap pendidikan dan sikap antikekerasan.

Ide emansipasi dan pendidikan antikekerasan yang digelorakan oleh RA Kartini perlu untuk digelorakan sampai ke tingkatan pendidikan sekolah dasar, sekolah menengah, dan tingkatan yang lebih atas lagi.
Aksi pengeroyokan yang dialami oleh Audrey menjadikan kita prihatin terhadap merebaknya kekerasan di dalam pendidikan anak. Kekerasan yang tentu berlawanan dengan nilai emansipasi dan nilai pendidikan yang telah diteladankan oleh RA Kartini.

Sebagaimana yang kita ketahui melalui berbagai berita daring dan media cetak, aksi pengeroyokan yang dialami oleh Audrey, siswi salah satu SMP di Pontianak, Kalimantan Barat, telah mengundang keprihatinan masyarakat. Kasus yang berawal dari masalah asmara remaja dan berlanjut dengan adu komentar di media sosial diakhiri dengan kekerasan. Kekerasan seperti ini jelas menjadikan harkat dan martabat perempuan terdegradasi ke titik yang paling nadir.

Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) mencatat, sejak 1 Januari hingga 16 Maret 2021, terdapat 426 kasus kekerasan seksual dari total 1.008 kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak. Asisten Deputi Perumusan Kebijakan Perlindungan Hak Perempuan Ali Khasan dalam diskusi daring, Jumat (19/3/2021) mengatakan, data tersebut berdasarkan hasil pelaporan Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak (Simfoni-PPA).

Kasus kekerasan ini menjadi hal yang penting untuk direfleksikan dalam memperingati kelahiran RA Kartini. Kekerasan harus dihentikan, terutama dalam konteks peserta didik. (Sindo)