Menuju Kemenangan Sejati Melawan Pandemi Covid-19

Menuju Kemenangan Sejati Melawan Pandemi Covid-19
ilustrasi/Net

Yang justru memprihatinkan adalah kasus-kasus OTT ternyata melibatkan figur publik yang memiliki rekam jejak ”mentereng” secara moral. OTT terhadap mantan Gubernur Sulsel Nurdin Abdullah yang pernah menerima penghargaan Antikorupsi Bung Hatta Award menjadi contoh yang paling gamblang, selain tentu saja OTT terhadap Bupati Nganjuk Novi Rahman Hidayat. Ada juga OTT terhadap mantan Menteri Sosial Juliari P. Batubara yang mengorupsi dana bantuan penanganan Covid-19.

Kasus-kasus OTT terhadap sejumlah figur publik yang dicitrakan sebagai pejabat bersih menyisakan keprihatinan mendalam dalam kamus kehidupan politik kita yang masih dikuasai sistem ”kartel” dan oligarki politik. Pelajarannya adalah: figur-figur muda yang potensial tidak boleh dimanjakan oleh pujian berlebihan karena perjalanan karier politik mereka masih ”koma”, belum ”titik”. Di sepanjang karier politiknya, mereka masih mungkin menghadapi lubang ujian yang dapat membuatnya terpeleset, terpelanting, dan terjatuh di tengah jalan.

Dalam sistem politik ”kartel” dan oligarki, isunya adalah pertarungan antara kekuatan moralitas individu versus sistem politik korup yang koersif. Dalam sistem politik semacam ini, sekuat apa pun mekanisme pertahanan moral yang dimiliki oleh seorang individu tidak bisa menjamin kemenangan melawan korupnya sistem politik ”kartel” dan oligarki. Siapa pun dan sesaleh apa pun seorang pejabat belum tentu tahan uji terhadap godaan korupsi yang menghadang di depannya.
Menghadapi pandemi moral bangsa yang sedemikian akut dan mengkhawatirkan, memaknai takwa sebagai vaksinasi sekaligus detoksifikasi spiritual menemukan signifikansinya.

Vaksinasi spiritual menjadi kebutuhan mendesak untuk memenangkan pertarungan melawan pandemi moral yang efeknya jauh lebih dahsyat dan sistemik. Diraihnya derajat takwa sebagai tujuan ibadah puasa (QS Al Baqarah: 183) harus dimaknai sebagai upaya membentengi diri dari segala mara bahaya yang dapat merusak diri sendiri maupun orang lain (Fazlur Rahman, 1980).

Namun, apa lacur, kebanyakan pelaku puasa masih berkutat pada pemaknaan puasa sebagai penggugur kewajiban. Imam Al Ghazali menyebutnya sebagai ”puasa awam”. Kata Nabi SAW, puasa yang demikian tidak akan mendapatkan apa-apa kecuali rasa lapar dan dahaga. Takwa yang secara harfiah bermakna ”penghindaran” dan ”pencegahan” dari berbagai mara bahaya seharusnya diinternalisasi oleh para pelaku puasa sebagai nilai inti (core value) yang melandasi pola pikir, pola sikap, dan pola tindak sepanjang hidup. Hanya dengan cara demikian bangsa ini akan dapat memenangi pertarungan melawan berbagai macam pandemi, terutama pandemi dekadensi moral. Semoga! (*)

*) oleh : Masdar Hilmy, Guru Besar dan Rektor UIN Sunan Ampel Surabaya

sumber : Jawapos