Nuzulul Quran dan Spirit Intelektualisme

Nuzulul Quran dan Spirit Intelektualisme
ilustrasi

Alquran dan Sains
Seorang filsuf Prancis, Al-Kiss Luazon, menegaskan bahwa Alquran adalah kitab suci. Tidak ada satu pun masalah ilmiah yang terkuak di zaman modern ini yang bertentangan dengan dasar-dasar Islam.

Dr Rene Ginon, setelah masuk Islam dan berganti nama menjadi Abdul Wahid Yahya, juga bercerita tentang pengalamannya mempelajari Alquran. Dia menemukan ayat-ayat yang relevan dan kompatibel dengan ilmu pengetahuan modern. ”Seandainya para pakar dan ilmuwan dunia itu mau mengkaji ayat-ayat Alquran secara serius yang terkait dengan apa yang mereka pelajari, seperti yang saya lakukan, niscaya mereka akan menjadi muslim tanpa ragu –jika memang mereka berpikir objektif– katanya” (Abdul Muta’al, 1980: 8).

Karena itu, orang terpelajar (intelektual muslim) memiliki potensi besar dalam mendekatkan diri kepada Allah (takwa) karena mereka banyak mengetahui informasi ilmiah melalui jagat raya ini. Semakin seseorang banyak mengetahui rahasia alam ciptaan Allah, semakin sadar akan kebesaran-Nya. Sebaliknya, jika seseorang tidak banyak tahu tentang rahasia alam ciptaan-Nya, ia melihat kehidupan ini biasa-biasa saja, tidak ada kekaguman, bahkan yang terjadi malah memitoskan alam tersebut.

Suatu misal, seorang terpelajar akan memahami gerhana bulan atau matahari dan silih bergantinya siang-malam itu sebagai fenomena alam yang sangat sistematis dan by design. Bukan by accident. Tidak mungkin tidak dirancang oleh Sang Kuasa Allah Rab Al Alamin. Dengan melihat fenomena alam seperti itu, orang terpelajar itu akan merasa kecil di hadapan Ilahi Rabbi. Lalu ia bersyukur, tunduk, dan khusyuk dengan melakukan salat khusyuf al-Qamar dan kusuf al-Syams. Seraya mengucapkan rabbana ma khalaqta haza bathila subhanaka fa qina azab al-nar. Tentu ini tidak dilakukan orang awam yang tidak memahami rahasia alam ciptaan-Nya.

Maka, Alquran selalu mendorong manusia untuk belajar dan menambah bekal ilmu pengetahuan dan menggunakan akalnya secara maksimal. Dengan kemampuan akal itu diharapkan mampu melihat Allah SWT melalui perenungan dan pengamatan akan ciptaan-Nya.

Agama Islam selalu menyeru dan mendorong umatnya untuk senantiasa mencari dan menggali ilmu. Karena itu, ilmuwan mendapatkan perlakuan yang lebih dari Islam, yang berupa kehormatan dan kemuliaan. Alquran dan As-Sunnah mengajak kaum muslimin untuk mencari dan mengembangkan ilmu serta menempatkan mereka pada posisi yang luhur.
Sebagaimana diidentifikasi Al-Qardhawi (1986: 1-2) bahwa kata ilm dan kata jadiannya disebutkan dalam Alquran mencapai sekitar 800 kali. Al-Qardhawi dalam penelitiannya terhadap kitab Al-Mu’jam al-Mufahras li al-fazh al-Qur’an al-Karim melaporkan, kata ilm (ilmu) dalam Alquran, baik dalam bentuknya yang definitif (makrifat) maupun indefinitif (nakirah) terdapat 80 kali. Sedangkan kata yang berkait dengan itu, seperti kata allama (mengajarkan), ya’lamun (mereka menegetahui), alim (sangat tahu), dan seterusnya, disebutkan beratus-ratus kali.