Polemik Vaksin Nusantara Berujung Damai

Polemik Vaksin Nusantara Berujung Damai
Wakil Ketua Komisi IX DPR RI, Melkiades Lakalena/Net

Omahnews – Polemik Vaksin Nusantara telah berujung pada perdamaian. Melalui inisiasi Menteri PMK, Muhadjir Effendy, tercapailah Memorandum of Understanding (MoU) antara BPOM, Menkes Budi Gunadi Sadikin, KSAD, dan dr Terawan Agus Putranto sebagai pelopor adanya vaksin buatan dalam negeri itu.

Wakil Ketua Komisi IX DPR RI, Melkiades Lakalena, pun mengapresiasi inisiati Menko PMK dalam mencari solusi terbaik untuk menyelesaikan polemik Vaksin Nusantara.

Dengan adanya MoU tersebut, akan tetap mendorong agar vaksin tersebut dilanjutkan proses penelitiannya.
Menurut Melki, kesepakatan kemarin yang ditandatangani oleh KSAD, Menkes, dan BPOM adalah sebuah langkah maju untuk menyelesaikan permasalahan Vaksin Nusantara ini.

“Langkah yang baik untuk kita bisa melanjutkan penelitian sel dendritik yang kemarin dikenal dengan Vaksin Nusantara ini. Dan bisa menjadi salah satu kemungkinan penyelesaian pandemi Covid-19 di tanah air atau bahkan dunia, apabila memang penelitian ini benar-benar terbukti seperti apa yang disampaikan oleh para peneliti,” katanya, Selasa (20/4).

“Jadi untuk itu kami apresiasi yang setinggi-tingginya kepada Pak Muhadjir yang telah mampu menginisiasi solusi tersebut sebagai langkah untuk kita bisa menyelesaikan perdebatan dan kita tetap bisa melanjutkan kerja kita masing-masing,” sambungnya.

Selain itu, Melki juga mengucapkan rasa terimakasihnya kepada para relawan dalam penelitian ini.
“Para relawan yang ada di Semarang kurang lebih ada 27 orang, kemudian para relawan yang sekarang melanjutkan proses di RSPAD. Merekalah yang terus bersedia menjadi orang yang berdiri di garda terdepan untuk menjadi contoh bagaimana membuktikan bahwa tesis dari para peneliti ini bisa dilakukan,” katanya.

Politikus Partai Golkar ini mengatakan, sebelum masyarakat banyak mendapatkan efek dari pengobatan sel dendritik ini, para relawan ini siap menyerahkan badannya untuk menjadi contoh dari penelitian ini.

“Sebelum kita mengklaim ataupun meneruskan pada fase yang lebih besar lagi. Karena itu saya memberikan apresiasi kepada relawan di RS Kariadi Semarang yang jumlahnya 27 orang, kemudian di RSPAD yang jumlahnya terus membludak karena ingin membuktikan klaim para peneliti,” urainya.

“Jadi kami mengapresiasi pada relawan yang dengan penuh keyakinan setelah berdiskusi dengan berbagai pihak khususnya dengn para peneliti, mereka dengan sadar mau menjadi relawan sel dendritik atau yang kemarin kita sebut dengan Vaksin Nusantara,” tandasnya.(Rmol)