Riset: Eks Pasien Covid Alami Penurunan Kecerdasan dan IQ

Riset: Eks Pasien Covid Alami Penurunan Kecerdasan dan IQ
ilustrasi

Omahnews – Eks pasien corona terbukti mengalami penurunan kecerdasan dan IQ, menurut riset terbaru. Temuan ini pun menyoroti gangguan kesehatan jangka panjang virus corona, atau biasa dikenal sebagai Long COVID-19, bagi penyintasnya.

Riset tersebut tak hanya menemukan penurunan kecerdasan pada pasien COVID-19 yang telah dirawat di rumah sakit, tetapi juga pada mantan pasien yang tidak dirawat di rumah sakit. Penelitian ini telah terbit di jurnal The Lancet pada Sabtu (24/7).

Dalam penelitian tersebut, para peneliti hendak mengkonfirmasi hubungan COVID-19 dan kinerja kognitif pasien corona. Riset ini mencakup 81.337 relawan yang diberi tes kecerdasan antara Januari dan Desember 2020. Dari seluruh sampel, 12.689 relawan melaporkan pernah mengalami COVID-19, dengan tingkat keparahan pernapasan yang bervariasi.

Setelah mengontrol faktor-faktor seperti usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, dan variabel lainnya, para peneliti menemukan bahwa mantan pasien corona yang telah sembuh COVID-19 cenderung mendapat nilai buruk pada tes kecerdasan dibandingkan dengan mereka yang tidak tertular virus corona.

Penurunan kecerdasan terbesar mantan pasien corona umumnya terlihat pada tes yang membutuhkan penalaran, perencanaan, dan pemecahan masalah. Temuan ini sejalan dengan “laporan Long Covid, di mana ‘kabut otak’, kesulitan berkonsentrasi, dan kesulitan menemukan kata-kata yang benar adalah hal biasa (ditemukan pada penyintas corona),” kata para peneliti.

Para peneliti juga menemukan, penurunan kinerja kognitif terkait dengan tingkat keparahan COVID-19. Mantan pasien corona yang dirawat di rumah sakit dengan ventilator menunjukkan penurunan kecerdasan terbesar, dengan penurunan IQ sebanyak 7 poin. Penurunan kecerdasan yang lebih besar bahkan dilaporkan mantan pasien corona yang punya riwayat stroke dan gangguan belajar.

Meski demikian, para peneliti belum dapat menarik kesimpulan yang tegas bahwa COVID-19 mengakibatkan penurunan kecerdasan. Sebab, hanya ada 275 relawan yang mengikuti tes sebelum dan sesudah mereka terinfeksi corona.

Di sisi lain, sampel yang besar dan beragam secara sosial ekonomi memungkinkan para peneliti untuk mengontrol berbagai macam variabel yang berpotensi ikut berperan.

“Peringatan utama adalah bahwa kita tidak tahu apa dasar mekanistik dari asosiasi kognisi Covid yang diamati. Kita juga tidak tahu berapa lama dampak apa pun pada kognisi dapat bertahan. Saya menyediakan teknologi penilaian untuk digunakan dalam serangkaian penelitian yang sekarang mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan ini,” kata penulis utama studi sekaligus peneliti neurosains di Imperial College London, Adam Hampshire, kepada PsyPost.

Hampshire menjelaskan, pada awalnya riset yang timnya buat tak khusus ditujukan untuk mencari hubungan COVID-19 dan kecerdasan pasien corona. Riset ini, yang melibatkan kolaborasi dengan BBC, awalnya bertujuan untuk mencari tahu dampak gaya hidup modern bagi kecerdasan warga Inggris secara umum dan akan ditayangkan di program TV bertajuk The Great British Intelligence Test.

Namun, karena kebetulan pandemi muncul ketika Adam dan timnya sedang mengumpulkan sampel penelitian, riset mereka akhirnya juga berupaya mencari tahu dampak virus corona bagi kecerdasan mantan pasien.

“Secara kebetulan, pandemi meningkat di Inggris di tengah ketika saya mengumpulkan data kesehatan kognitif dan mental dalam skala yang sangat besar sebagai bagian dari kolaborasi BBC2 Horizon, the Great British Intelligence Test,” kata Hampshire.