Status Imunitas pada Puasa Ramadan

Status Imunitas pada Puasa Ramadan
ilustrasi berpuasa

Kompartemen tubuh yang menimbulkan akibat buruk pada kondisi demikian adalah lapisan lemak di dinding perut yang disebut white adipose tissue (WAT) atau lemak visceral. WAT tidak hanya bersifat sebagai ”gudang” penyimpanan energi yang dapat ”dibongkar” selama berpuasa. WAT juga mengandung komponen-komponen yang bersifat memicu inflamasi sehingga bisa berakibat pada peningkatan berbagai risiko penyakit. Misalnya, kencing manis, tekanan darah tinggi, penyakit jantung koroner, stroke, penuaan dini, kanker, perlemakan hati, dan beberapa penyakit lainnya yang dilandasi proses low-grade inflammation yang berlangsung kronis.

Puasa Ramadan terbukti sukses menurunkan berat badan, khususnya mengurangi lingkar perut yang merupakan ukuran standar WAT. Pada gilirannya, berkurangnya kompartemen WAT dalam tubuh seseorang dapat meningkatkan performa sistem imun.

Perhatian Khusus
Selama menjalankan puasa Ramadan, perlu diperhatikan jumlah asupan cairan yang cukup. Tujuannya, menghindari terjadinya dehidrasi yang dapat menimbulkan penurunan daya pembersihan tubuh terhadap mikroba saluran napas. Perhatikan juga komposisi makanan yang seimbang. Terdiri atas karbohidrat, sayuran, buah-buahan, polong-polongan, dan kacang-kacangan yang mengandung banyak vitamin dan mineral serta polifenol sebagai antioksidan yang dapat membantu meningkatkan aktivitas sistem imun. Karena masih situasi pandemi, kita tetap harus disiplin mematuhi protokol kesehatan selama menjalankan ibadah secara bersama-sama. (*)

*) Ari Baskoro, Divisi Alergi-Imunologi Klinik Departemen/SMF Ilmu Penyakit Dalam FK Unair/RSUD dr Soetomo Surabaya

Sumber : Jawapos

Exit mobile version