Status Imunitas pada Puasa Ramadan

Status Imunitas pada Puasa Ramadan
ilustrasi berpuasa

Omahnews – UMAT Islam di seluruh dunia yang saat ini diperkirakan berjumlah 1,5 miliar jiwa menjalankan puasa Ramadan dalam beberapa hari lagi.

Suasana Ramadan tahun ini mungkin sangat berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Sebab, hingga saat ini dunia berada dalam masa genting menghadapi pandemi Covid-19 yang belum bisa diprediksi kapan berakhirnya.

Perhatian para ahli dan peneliti bidang kesehatan saat ini terpusat pada pertanyaan seputar dampak puasa yang berlangsung 29–30 hari di aspek kesehatan manusia pada masa pandemi. Khususnya tentang aktivitas sistem imun selama Ramadan dalam menghadapi paparan mikroba. Termasuk virus korona.

Banyak literatur yang membahas secara ilmiah dampak sistem imun selama menjalankan puasa Ramadan. Sebagian memberikan wacana kehati-hatian. Terutama pada kondisi-kondisi spesifik tertentu yang mungkin bisa berdampak kurang menguntungkan bagi kesehatan. Namun, sebaliknya banyak riset yang bisa mengungkap manfaat puasa bagi kesehatan manusia. Khususnya performa sistem imun dalam menghadapi berbagai ancaman mikroba, tidak terkecuali SARS-CoV-2 sebagai virus penyebab Covid-19.

Beberapa elemen yang menghubungkan aktivitas berpuasa dengan dampaknya bagi kesehatan adalah persoalan mekanisme inflamasi, stres oksidatif, metabolisme, berat badan, serta perubahan komposisi kompartemen susunan tubuh. Perubahan-perubahan pada komposisi dalam diet makanan dan pola hidup menjadi bahan kajian yang menarik bagi para peneliti. Misalnya, asupan cairan/status hidrasi, lama dan perubahan pola waktu tidur, jumlah asupan kalori per hari, perubahan pola waktu makan, aktivitas sosial (misalnya buka puasa bersama), serta spiritual (misalnya pengajian di masjid).

Inflamasi
Inflamasi atau peradangan sebenarnya merupakan respons pertahanan tubuh yang fisiologis terhadap rangsangan mikroba ataupun cedera jaringan. Dalam derajat tertentu, memang inflamasi diperlukan tubuh untuk mekanisme pemulihan. Namun, bila berlebihan dan tidak terkendali (hiperinflamasi), hal itu justru sangat merugikan dan dapat menimbulkan berbagai kerusakan jaringan.

Belajar dari kasus-kasus yang fatal pada Covid-19, terjadinya mekanisme hiperinflamasi menjadi biang penyebab kematian tertinggi pada penyakit yang disebabkan virus ”cerdas” yang rajin mengalami mutasi tersebut. Tidak semua individu akan mengalami kondisi buruk seperti itu. Hanya orang-orang tertentu yang dikenal mempunyai komorbid dan potensi lebih berisiko mengalami keadaan yang menjurus menjadi lebih berat.

Exit mobile version