Tak Harus Benci Produk Luar Negeri

Tak Harus Benci Produk Luar Negeri
Putri Hanifah

Omahnews – Sesaat setelah pencabutan izin miras, Presiden Indonesia Presiden Joko Widodo menyeru masyarakat untuk bangga menggunakan produk dalam negeri.

Seruan tersebut disampaikan ketika Rapat Kerja Kementrian Perdagangan 2021. Dalam pidatonya beliau mengungkapkan “Cintai Produk dalam Negeri, Benci Produk Asing” sontak pembahasan itu menjadi ramai di media sosial.

Beberapa media asing seperti Reuters asal Inggris, Intellasia.net dari Asia Timur, kantor berita Singapura Channel News Asia, dan Mainichi.jp dari Jepang tak luput menyoroti pernyataan beliau. Riuh dan ramainya pernyataan tersebut tentu mengundang pro kontra.

Masyarakat yang pro tentu akan mendukung pernyataan beliau, mengingat banyak masyarakat Indonesia hari ini yang lebih bangga menggunakan produk luar negeri daripada produk sendiri. Sedangkan masyarakat yang kontra tentu akan menggarisbawahi diksi benci yang beliau ungkapkan.

Menurut KBBI benci bermakna tidak suka. Bisa jadi, satu hal yang terlintas di benak masyarakat adalah seruan untuk tidak menyukai produk asing. Padahal suka ataupun tidak suka adalah urusan hati yang semua orang memiliki pertimbangan sendiri mengapa membeli produk itu dan ini.

Pertanyaan selanjutnya, apakah pernyataan benci ini benar-benar sudah tertanam di negeri Indonesia atau hanya menjadi slogan semata? Jika kita mau menelisik lebih jauh, rasanya fakta benci ini masih jauh di lapangan. Bagaimana bisa benci produk luar negeri jika angka impor masih tinggi? Bulan Januari – Desember 2020 kemarin saja nilai impor Indonesia masih USD 141.568,8 juta menurut Badan Pusat Statistik.