Tak Harus Benci Produk Luar Negeri

Tak Harus Benci Produk Luar Negeri
Putri Hanifah

Berbicara tentang membeli barang adalah berbicara soal kebutuhan, ada orang yang membeli rela membeli barang karena kualitasnya, barang elektronik misalnya seperti jam tangan, alat-alat masak untuk kesehatan dan lain-lain. Ada juga yang membeli barang karena mempertimbangkan soalan harganya. Oh, kalau mau membeli produk ini yang murah saja, yang penting bisa dipakai.

Semua disesuaikan dengan kebutuhan yang akan dibeli oleh konsumen. Jika masyarakat dibatasi untuk tidak boleh membeli produk luar negeri (khususnya dari China) dengan karakteristik murahnya, siapa memang yang akan mengganti subtitusi produk yang dibutuhkan oleh masyarakat dengan harga yang selangit?

Jika dilihat dari sudut pandang Presiden, wajar jika beliau sampai menggaungkan benci produk luar negeri. Pasalnya produk luar negeri banyak sekali membanjiri pasar negeri ini. Bahkan marketplace favorit wanita Indonesia yakni Shopee, juga sudah lama menyediakan fitur beli langsung dari luar negeri.

Animo masyarakat yang besar terhadap barang-barang dari luar negeri (khususnya China) tentu bukan tanpa sebab. Animo ini datang karena harga barang di China super murah, selain itu biaya ongkir dari China ke Indonesia bahkan lebih murah daripada harga ongkir di dalam negeri. Itu pun pembeli sudah tidak dibebani biaya beacukai lagi (jika membeli orderan lewat shopee). Tentu hal ini menjadi sesuatu hal yang menggiurkan bagi masyarakat.

Globalisasi hari ini meniscayakan Indonesia juga masuk dalam pusaran perdagangan internasional. Tentu kita masih ingat dengan dengan perjanjian perdagangan internasional seperti Asian Free Trade Area (AFTA), ASEAN-CHINA FTA, Indonesia-Jepang Economic Partnership Agreement (IJEPA) belum dengan perjanjian perdagangan internasional yang sudah ditaken sampai hari ini.

Izinkanlah persaingan itu hadir secara alami, kalau perlu jejerkan produk kita dengan produk luar negeri. Misal mobil SMK di jejerkan dengan mobil Hyundai. Test pasar, mana yang masyarakat pilih? Kalau masyarakat memilih produk luar negeri berarti memang produk dalam negeri ada yang harus dibenahi, inovasi harus segera digencarkan. Kalau dariawal masyarakat sudah benci? Bagaimana masyarakat bisa mengamati, meniru dan memodifikasi produk mereka untuk mengembangkan produk sendiri di dalam negeri?

Sejatinya tidak ada masyarakat yang bodoh, yang ada hanya mereka kekurangan informasi terdahulu (ma’lumat as-sabiqoh) yang menjadikan mereka masih kesulitan mengaitkan fakta yang ia jumpai di lapangan dengan informasi yang dia miliki. Jangankan inovasi, bisa jadi kesulitan tersebut menjadikan masyarakat sibuk membeli produk luar negeri, tanpa memikirkan apa dampaknya bagi negeri.

Exit mobile version