Tifa Nusantara

Tifa Nusantara
dr Tifauzia Tyassuma/Ist

Untuk mudahnya lantas sebut saja I-Nu (Imunoterapi Nusantara). Nama I-Nu bisa lebih keren dan lebih milennial dari pada istilah Vaknus.
“I-Nu kalau diucapkan kan seperti I know. Saya tahu. Keren sekali,” kata Tifa.

Usulnya itu berdasar: “Karena memang tidak ada sedikit pun virus atau pun potongan virus atau virus sintetis atau printing DNA atau spike atau apapun dari virus itu yang masuk ke tubuh manusia,” tulis Tifa.
Lebih mendasar lagi, Tifa ingin I-Nu bisa mengakhiri sejarah teknologi vaksin. Yang umur penemuannya sudah 200 tahun.

Era vaksin, kata Tifa, seharusnya sudah lewat.
I-Nu itu, kata Tifa, bisa membuat sejarah baru peradaban manusia. Yakni sebagai suatu terapi personalized sekaligus sebagai tonggak penting.
I-Nu bisa diartikan sebagai dimulainya “Era Personalized Medicine atau Precision Medicine. Yakni Kedokteran Abad 21. Yang lebih mengutamakan pendekatan personal bagi setiap kasus yang dihadapi setiap manusia”.

Kalau kita bicara tentang personalized medicine, maka metodologi riset klinis atau clinical research methodology harus banyak diubah dan dimodifikasi.
Riset baru, kata Tifa, sudah harus mengikuti arah perkembangan kemajuan Ilmu. Termasuk yang disebut sebagai Randomized Controlled Trials (RCTs) –yang menjadi syarat mutlak dilakukannya terapi medis bagi manusia.
Ya memang, kata Tifa, risikonya besar: pabrik farmasi dan produsen vaksin akan marah-marah.
“I-Nu itu kalau berhasil bisa diterapkan untuk menangkal virus dan kuman apa pun,” kata Tifa.

Tifa, dokter yang S-2 nya didapat dari Universitas Gadjah Mada Jogjakarta, masih punya usul lain: Terawan jangan pelit bagi-bagi ilmu. Bikinlah kursus sebanyak-banyaknya buat para dokter.
“Agar mereka juga bisa praktik dengan I-Nu,” kata Tifa, yang di tahun 1988 lulus SMAN 2 Jogjakarta.
“Saya pun mau ikut kursus itu”. (DI)

Exit mobile version