Waspadai Gejala Gegar Otak pada Anak Sesuai Usia

Waspadai Gejala Gegar Otak pada Anak Sesuai Usia
ilustrasi

Omahnews – Gegar otak adalah masalah kesehatan serius yang bisa terjadi pada siapa saja, tak terkecuali anak-anak. American Academy of Pediatrics bahkan mengatakan kondisi tersebut lebih banyak dialami oleh anak perempuan.

Gegar otak merupakan cedera pada otak yang membuat organ vital tersebut berhenti bekerja secara normal untuk sementara waktu atau permanen.

Menurut dr. Reza Fahlevi, Sp. A, gegar otak pada anak biasanya disebabkan karena trauma.
“Gegar otak pada anak biasanya terjadi akibat trauma, misalnya adanya benturan, goncangan, dan lainnya,” ujar dr. Reza.

Gejala gegar otak pada anak dapat bervariasi, dari ringan hingga berat. Menurut dr. Reza, gejala gegar otak ringan bisa berupa sakit kepala, pusing, dan pandangan kabur.

“Namun, untuk kasus gegar otak parah, kondisi tersebut bisa menyebabkan penurunan kesadaran, kejang, atau bisa sampai pendarahan,” ucap dr. Reza.

Bagaimana pun gejala yang terjadi, gegar otak pada anak mesti segera diatasi. Untuk itu, penting bagi setiap orangtua untuk mengenali ciri-ciri gegar otak pada anak

Berikut ini gejala gegar otak pada anak berdasarkan usia
Gegar Otak pada Bayi
Saat terjadi gegar otak pada bayi, gejala yang bisa terlihat adalah sebagai berikut:
Bayi menangis saat menggerakkan kepalanya.
Memiliki sifat lekas marah.
Gangguan dalam kebiasaan tidur.
Adanya benjolan atau memar di kepala.

Gegar Otak pada Balita
Balita mungkin sudah bisa menunjukkan tanda-tanda kesakitan di kepala. Adapun gejala gegar otak pada balita, yakni:
Sakit kepala.
Mual atau muntah.
Perubahan perilaku.
Perubahan tidur (kurang atau lebih banyak tidur).
Menangis berlebihan.
Kehilangan minat untuk bermain atau melakukan aktivitas yang disukainya.

Gegar Otak pada Anak di atas Usia Balita
Anak berusia lebih tua dari balita yang mengalami gegar otak akan lebih menunjukkan gejala perubahan perilaku, seperti:
Pusing atau kehilangan keseimbangan.
Penglihatan ganda atau kabur.
Kepekaan terhadap cahaya.
Kepekaan terhadap kebisingan.
Terlihat sering melamun.
Sulit berkonsentrasi.
Sulit untuk mengingat sesuatu.
Bingung atau lupa pada kejadian baru-baru ini.
Lambat dalam menjawab pertanyaan.
Suasana hati tidak stabil, sehingga mudah tersinggung, sedih, gugup, bahkan mengantuk.
Perubahan pola tidur.

Berdasarkan dr. Reza, gegar otak pada anak cukup berbahaya, apalagi jika gejalanya berat.
“Jika gejalanya berat, bisa menyebabkan kehilangan nyawa. Kalau ringan, dapat membaik gejalanya dalam beberapa hari atau minggu,” jelas dr. Reza.

Satu-satunya obat untuk mengatasi gegar otak adalah istirahat, baik secara mental maupun fisik. Ketika mendapatkan banyak istirahat, otak akan menyembuhkan dirinya sendiri.

Pemulihan secara optimal dapat memakan waktu berbulan-bulan atau bertahun-tahun, tergantung tingkat keparahan gejala gegar otak pada anak.

Pada anak yang mengalami gegar otak, orangtua juga perlu menjauhkan paparan teknologi.
Pasalnya, gadget, televisi, dan benda elektronik lainnya dapat merangsang serta menggairahkan otak sehingga tak bisa istirahat untuk proses pemulihan yang optimal.

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) pun menyarankan orangtua untuk membawa anak yang mengalami benturan di kepala ke dokter.

Hal ini penting untuk dilakukan, apalagi jika anak mengalami kondisi sebagai berikut:
Anak terlihat tidur terus atau tidak sadarkan diri.
Anak seperti bingung atau gelisah.
Anak mengalami kejang.
Terdapat keluhan sakit kepala yang bertambah parah.
Anak mengalami mimisan di hidung, atau keluar darah di telinga.
Ubun-ubun anak tampak menonjol.

Kini, Anda telah mengetahui ciri-ciri gegar otak pada anak, bukan? Jika sekiranya mendapati gejala-gejala tersebut pada anak, tak perlu menunda untuk membawanya ke dokter. (KD)

Exit mobile version